DengarBain

Hadis 13 : Mencintai Saudara Seperti Mencintai Diri Sendiri

HR. Bukhari dan MuslimStatus: Shahih
Status Hafalan:

عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

0:00 / 1:25

Terjemahan Hadis

Dari Abu Hamzah, yaitu Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, pembantu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian, sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri."

Perawi Utama

Anas bin Malik

Sumber & Kualitas

HR. Bukhari dan Muslim (Shahih)

Urgensi & Faedah Hadis

1

Mengajarkan empati dan kepedulian yang tinggi. Kita diajarkan untuk selalu menginginkan kebaikan bagi orang lain dan membuang jauh-jauh sifat egois atau menang sendiri.

2

Menciptakan kedamaian dalam masyarakat. Jika semua orang saling menyayangi dan memperlakukan orang lain dengan baik, maka tidak akan ada lagi rasa iri, dengki, atau permusuhan.

3

Menjadi tolok ukur kesempurnaan iman. Iman seseorang tidak hanya dinilai dari ibadahnya kepada Allah seperti shalat, tetapi juga dinilai dari seberapa baik dan tulus ia menyayangi sesama manusia.

Sebab Turunnya Hadis (Konteks)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan hadis ini untuk mendidik para sahabat agar memiliki ikatan persaudaraan yang sangat kuat (ukhuwah). Saat itu, Nabi sedang mempersatukan kaum Muhajirin (umat Islam yang pindah dari Makkah tanpa membawa harta) dengan kaum Anshar (penduduk asli Madinah). Agar persatuan ini berhasil, Nabi Muhammad SAW menanamkan pesan penting bahwa keimanan sejati adalah ketika seseorang rela berbagi kebahagiaan dan selalu mengharapkan teman atau saudaranya mendapatkan hal-hal yang baik, sama seperti ia menginginkan kebaikan tersebut untuk dirinya sendiri.

Kata-kata Pilihan

لَا يُؤْمِنُ(Laa Yu'minu)

Tidak beriman (dengan sempurna). Ini bukan berarti orang tersebut keluar dari agama Islam, melainkan kualitas keimanannya belum mencapai titik yang paling baik.

يُحِبَّ(Yuhibba)

Mencintai, menyukai, atau menginginkan. Yaitu perasaan tulus dari dalam hati yang menginginkan kebahagiaan, kemudahan, dan kebaikan untuk orang lain.

لِنَفْسِهِ(Linafsihi)

Untuk dirinya sendiri. Maksudnya, apa pun yang kita anggap baik dan menyenangkan bagi diri kita, kita juga harus menganggap itu baik untuk orang lain.

Hadis 12Hadis 14