DengarBain

Hadis 5 : Larangan Membuat Sesuatu yang Baru dalam Agama

HR. Bukhari dan MuslimStatus: Shahih
Status Hafalan:

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ. وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

0:00 / 1:45

Terjemahan Hadis

Dari Ibu orang-orang beriman, Ummu Abdillah, yaitu Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barang siapa yang membuat-buat hal baru dalam urusan agama kami ini, padahal tidak ada contohnya dari kami, maka perbuatan itu ditolak." Dan dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: "Barang siapa melakukan suatu amal ibadah yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ibadah itu ditolak."

Perawi Utama

Aisyah

Sumber & Kualitas

HR. Bukhari dan Muslim (Shahih)

Urgensi & Faedah Hadis

1

Menjaga kemurnian ajaran Islam. Agama Islam sudah sempurna. Hadis ini mengingatkan kita untuk menjaga ibadah agar tetap asli seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

2

Niat baik saja tidak cukup. Sebuah ibadah akan diterima oleh Allah jika memenuhi dua syarat: niatnya ikhlas karena Allah, dan caranya benar sesuai contoh dari Rasulullah SAW.

3

Memberikan rasa tenang dan mudah. Kita tidak perlu repot mencari-cari atau membuat cara ibadah yang baru. Kita cukup meniru dan mengikuti apa yang sudah diajarkan dengan sebaik-baiknya.

Sebab Turunnya Hadis (Konteks)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan pesan ini sebagai bentuk kasih sayang dan perlindungan bagi umatnya. Beliau mengetahui bahwa di masa depan akan ada orang-orang yang mencoba menambah atau mengubah aturan ibadah karena merasa itu baik. Oleh karena itu, beliau memberikan pedoman yang sangat jelas sejak awal: dalam urusan ibadah kepada Allah, pedomannya adalah aturan agama yang sudah ada, bukan sekadar perasaan atau selera manusia. Tujuannya agar agama Islam tidak rusak atau berubah dari jalan aslinya.

Kata-kata Pilihan

أَحْدَثَ(Ahdatsa)

Membuat-buat atau menciptakan sesuatu yang baru. Dalam hadis ini maksudnya adalah mengarang cara ibadah baru yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi.

أَمْرِنَا(Amrinaa)

Urusan kami. Maksudnya adalah urusan aturan ibadah dan agama Islam, bukan urusan dunia sehari-hari seperti teknologi, makanan, atau ilmu pengetahuan.

رَدٌّ(Raddun)

Tertolak atau ditolak. Maksudnya adalah ibadah tersebut tidak akan diterima oleh Allah dan tidak akan mendapatkan pahala.

Hadis 4Hadis 6